Cerita Perjalanan: Kisah Pendakian Gunung Argopuro dan Sosok Bayangan Hitam di Tenda

Diposting pada

Rekamjejak__Hai sahabat rekamjejak. Apa kabar nih? Rasanya kangen banget sama kalian, karena belakangan ini sibuk dengan kerjaan dan belum sempat menyapa kalian. Nah, kali ini saya balik dengan cerita perjalanan , bisa dikatakan ini adalah cerita perjalanan pertama yang akan saya bagikan untuk kalian. Saya akan membagikan pengalaman pendakian ke Gunung Argopuro 2 tahun yang lalu. Sudah lama sih, tapi saya ingin berbagi pengalaman saja dengan kalian. Masih sangat jelas di ingatan saat melakukan pendakian Gunung Argopuro. Kecelakaan kecil yang hampir membuat saya jatuh ke jurang menjadikan tamparan keras buat saya agar selalu hati-hati di jalur pendakian.

Ini bukan untuk pertama kalinya, melainkan ini adalah gunung keempat yang saya jejaki. Pendakian kali ini saya ditemani oleh Mas Iski sekaligus leader, Mas Faris, Mas Lutfi, Ainul dan Irma. Tahukah kalian? Gunung Argopuro merupakan gunung dengan track terpanjang di pulau jawa dan memiliki puncak ketinggian 3088 mdpl. Gunung ini mempunyai 3 puncak yaitu puncak Arca, puncak Rengganis dan Puncak Argopuro. Gunung Argopuro ini terletak di pegunungan Hyang Timur di Situbondo, Jawa Timur dengan 2 jalur pendakian yaitu via Baderan dan via Bremi. Track gunung Argopuro bertipe naik  dan turun bukit. Tapi kalian gak perlu khawatir, karena bentangan sabana – sabana disana akan menyambut kalian. Desiran angin dan tarian lembut dari rumput sabana bahkan merayu kalian untuk merebahkan tubuh sejenak. Tidak hanya itu, koleksi flora dan fauna yang cukup lengkap juga akan menyambut kalian disana, diantaranya burung merak dan ayam hutan akan sering dijumpai bahkan di jalur pendakian.

Tidak hanya dikenal dengan bentangan alam yang luas dan beraneka ragam seperti sungai, danau, sabana dan lain-lain. Namun, Gunung Argopuro juga dikenal dengan kisah mistis yang sangat melegenda mengenai kisah kerajaan majapahit yang konon pernah berkuasa di sepanjang pegunungan Argopuro. Saya akan menceritakan sedikit kisahnya. Pada zaman dahulu .. (yaelah, macam film kartun yak wkwkwk, oke lanjut), dahulu kala dikisahkan putri kerajaan Majapahit yang bernama putri Rengganis suatu ketika pergi menuju puncak bersama pasukan kerajaannya. Namun, sebelum mereka sampai dipuncak, Putri Rengganis beserta pengikutnya hilang tanpa jejak. Menurut mitos, Putri Rengganis menetap dalam kerajaan gaib yang ada disana. Sebab itu, setiap perkataan dan perbuatan kita harus dijaga selama di kawasan tersebut, karena dulu pernah terjadi kasus dimana ada pendaki yang meninggal tanpa sebab. Setelah diselidiki, ternyata pendaki tersebut selama perjalanan melakukan perbuatan yang tidak pantas, seperti halnya berkata kotor dan mengotori kawasan jalur pendakian Gunung Argopuro. Percaya atau tidak, mitos-mitos yang berlaku harus dipatuhi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Baca Juga: Fakta dan Misteri Gunung Argopuro

Kami berangkat dari Pamekasan, Madura pada Sabtu, 06 Januari 2018 pukul 15:00 WIB dengan mengendarai sepeda motor. Setelah lama menempuh perjalanan menuju Probolinggo, akhirnya kami sampai di salah satu pondok pesantren bernama Nurul Jadid Paiton dan bertemu dengan anak Fatarpa (pecinta alam) untuk menitipkan sepeda motor sekaligus silaturahmi. Sekitar pukul 13:00 WIB kami menunggu bus untuk menuju ke alun-alun Besuki. Sesampainya di alun-alun, kami mencari mobil untuk kami tumpangi ke basecamp Baderan. Sekitar 1 jam lebih, akhirnya kami sampai di Baderan sekitar pukul 14:00 WIB. Sebelum melakukan registrasi, ada sedikit masalah dengan Mas Lutfi dan mengharuskan dia pulang ke Pamekasan dikarenakan orang tuanya kembali masuk rumah sakit. Setelah berdiskusi, akhirnya Mas Lutfi memutuskan untuk menginap semalam di basecamp, karena mobil untuk menuju ke alun-alun Besuki hanya ada pagi. Pukul 17:00 WIB kami melapor dan disana kami dibuatkan surat-surat untuk bisa melakukan pendakian. Retribusi di Gunung Argopuro cukup mahal yaitu Rp. 20.000,- pada hari biasa dan Rp. 35.000,- untuk weekend. Retribusi ini dibayar per hari sesuai waktu pendakian.

Pos Perizinan Via Baderan

 

Pos Mata Air I

Senin, 08 Januari 2018 tepatnya pukul 06:45 Wib kami memulai pendakian. Jalan pertama yang harus dilewati yaitu jalanan aspal yang menanjak. Tak lama dari itu, Kami mulai memasuki vegetasi yang cukup tertutup dengan jalan setapak yang masih sangat menanjak. Perjalanan yang sangat melelahkan dengan jalan setapak yang selalu naik dan tanpa landai sehingga menguras stamina kami. Sekitar pukul 13:00 Wib kami akhirnya sampai di pos pertama yaitu, Pos Mata Air I. Butuh waktu 6-7 jam untuk sampai di pos ini. Kami memutuskan untuk beristitahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan menuju Pos Mata Air II. Setelah dirasa cukup, akhirnya kami melanjutkan perjalanan, setelah hampir 3 jam berjalan akhirnya kami sampai di Pos Mata Air II. Dan disinilah kami memutuskan untuk bermalam guna menghilangkan rasa lelah setelah melakukan pendakian hari pertama.

Pos Mata Air II

Pos ini memiliki sumber air yang mengalir lebih deras daripada pos Mata Air I. Butuh waktu sekitar 15 menit untuk sampai di sumber mata air dari jalur pendakian. Di pos inilah kami bertemu dengan pendaki lain yang beranggotakan 5 orang, mereka cowok-cowok kece yang berasal dari Yogyakarta (Yaa lumayan buat cuci mata di gunung, hehe).Selasa, 09 Januari 2018, kami mulai melanjutkan perjalanan menuju Cikasur. Stamina kami sudah banyak terkuras, karena jarak dari Pos Air Mata II ke Cikasur cukup jauh. Setelah menempuh perjalanan sekitar 6 jam , dari kejauhan kami melihat sungai Cikasur mengalir dengan indahnya.

Istirahat Sejenak di salah satu pohon besar di tengah Sabana

Cikasur

Ada moment sakral yang terjadi di sungai Cikasur, dan rasanya saya ingin melupakan kejadian itu. Kejadian dimana saya jatuh saat melewati sungai dan membuat pakaian saya basah. Ditambah lagi saat itu hujan yang mengakibatkan saya kedinginan. Untungnya kami bertemu dengan pendaki dari Yogyakarta yang pada saat itu berteduh di atap bangunan dan masih layak untuk ditempati. Kami disuguhi minuman hangat dan mereka berbagi api unggun untuk kami menghangatkan diri. Setelah hujan reda, akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju Cisentor. Sepanjang perjalanan menuju Cisentor, kami disuguhi dengan pemandangan sabana-sabana yang indah. Sebelum akhirnya sampai di Cisentor, kalian akan melewati aliran mata air kecil yang airnya segar nan jernih. Untuk mandi pun tidak masalah, yang penting harus hati-hati takut ada pendaki lain yang lewat karena memang tempatnya terbuka.

 

Pose sok tegar, padahal celana basah kuyup dan kedinginan gara-gara jatuh di sungai Cikasur -_-

Cisentor

Kami sampai di Cisentor sekitar pukul 17:00 Wib setelah menempuh perjalanan sekitar 3 jam. Disana kami memutuskan untuk bermalam. 10 Januari 2018 Kami melanjutkan perjalanan menuju Rawa Embik bersama rombongan dari Yogyakarta. Setelah melewati sabana-sabana khas Argopuro, kami tiba di Rawa Embik.

Rawa Embik

Butuh waktu sekitar 2 jam dari Cisentor menuju Rawa Embik. Disana kami memutuskan untuk istirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan. Sekitar pukul 10:00 Wib kami akhirnya melanjutkan perjalanan menuju puncak Argopuro.

Puncak: Puncak Argopuro, Rengganis dan Arca

Senyumin Aja, meskipun gak mandi selama 5 hari 😀

 

Tepat tanggal 10 Januari 2018 pukul 11:05 Kami mulai mendaki puncak Argopuro 3088 mdpl. Puncak gunung Argopuro memang berbeda dengan puncak gunung lainnya, karena disini masih banyak pohon dan tidak bisa melihat negeri di atas awan. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke Puncak. Setelah puas menikmati keindahan gunung ini, akhirnya kami memutuskan untuk turun dan beristirahat. Sementara Mas Iski dan Mas Faris melanjutkan pendakian menuju puncak Rengganis. Perjalanan turun kami mulai pukul 13:00 Wib dengan melewati jalur yang berbeda yaitu jalur Bremi. Jalur Bremi memiliki medan yang sangat ekstrim dengan tanjakan dan turunan yang amat terjal. Beban di carier memang banyak berkurang, namun rasa lelah tetap cepat menghampiri kami. Saat itu hujan lebat, membuat kami semakin sulit untuk melakukan perjalanan. Jalur Bremi tidak memiliki pos-pos seperti di Baderan. Waktu tempuhnya lebih cepat (berlaku untuk turun), hanya saja medannya jauh lebih sulit dari Baderan. Setelah perjalanan yang sangat jauh dan memakan waktu sekitar 4 jam, akhirnya kami tiba di Danau Taman Hidup tepat pukul 17:00 WIB.

Danau Taman Hidup

Sejuta Keindahan Danau Taman Hidup dan Kisah Mistisnya

Dikarenakan waktu tidak memungkinkan untuk kami melanjutkan perjalanan, akhirnya kami memutuskan untuk bermalam di Danau Taman Hidup. Danau ini tampak terbentang indah, namun tetap saja dibumbui dengan hal-hal mistis yang membuat bulu romaku merinding. Suhu udara pada saat itu sangat dingin, membuat kami malas untuk keluar tenda. Setelah shalat dan makan, kami bermain kartu untuk menghilangkan rasa penat. Tenda sebelah asyik memainkan lagu dengan petikan khas ukulele. Bisa dikatakan di danau ini hanya ada 10 orang pendaki yang bermalam. Suasana malam semakin sunyi dan akhirnya kami memutuskan untuk tidur. Percaya atau tidak, entah itu jam berapa karena tidak sempat melihat jam, di sekitar tenda kami menginap seperti ada orang yang lari-lari dan itu sangat jelas. Saya berusaha berpikir positif dan memilih untuk melanjutkan tidur. Namun, suara itu semakin jelas. Untuk mengurangi rasa takut, saya mencoba mengabaikan suara itu. Mata terpejam, namun otak tetap berpikir keras di luar ada apa dan siapa yang berlarian di tengah hutan seperti ini. Selang beberapa menit, teman saya irma bangun karena merasa kesakitan. Pada saat saya membuka mata dan berusaha memastikan keadaan irma, diwaktu yang bersamaan saya melihat ada bayangan hitam besar di pojok kanan tenda kami. Saya pikir itu carier, namun untuk memastikan, saya ambil senter dan mengarahkannya ke pojok kanan tenda. Namun, tidak ada apa-apa disana. Belum puas dengan itu, saya matikan senter dan menghidupkannya lagi. Tapi, lagi-lagi saya tidak mendapatkan jawabannya. Seketika bulu kudukku merinding, perlahan saya merebahkan tubuh dan berusaha menghilangkan rasa takut. Masih terselimuti rasa penasaran, sebelum memejamkan mata, kembali saya mencari tahu benda apa di pojokan itu, saya kembali membuka mata dan melihat ke arahnya. Tetapi, semakin dilihat semakin merinding, akhirnya saya memutuskan untuk tidur. Jam 5 pagi kami masih berada dalam tenda, tidak ada yang berani keluar tenda karena masih sangat gelap dan suhu masih sangat dingin, kecuali irma dengan sangat terpaksa keluar tenda karena ingin buang air kecil. Seketika tenda hening dan tidak ada yang memulai pembicaraan. Hingga akhirnya saya memulai duluan dengan bertanya apakah semalam ada yang mendengar suara orang berlari-larian, dan melihat sosok bayangan hitam di pojok kanan tenda. Dan benar, tidak hanya saya, tapi mereka juga mendengar bahkan melihat bayangan hitam itu. Fakta di malam itu adalah, kami tidur dalam keadaan ketakutan.

Setelah hari mulai terang, satu per satu dari kami keluar tenda dan menikmati danau Taman Hidup yang saat itu masih diselimuti kabut. Saat itu juga, datanglah pendaki lokal yang beranggotakan 5 orang dan mereka juga mendirikan tenda. Mereka datang dari jalur bremi dan berniat untuk mancing di Danau Taman Hidup. Setidaknya, suasana Danau ini tidak terlalu sepi dengan kehadiran mereka. Sekitar pukul 12:00 Wib kami turun ke pos perizinan Bremi. Selama melewati jalur ini, kalian harus hati-hati karena jalannya cukup terjal dan ada banyak jalur. Supaya aman, kalian harus mengikuti marka atau petunjuk yang sudah disediakan. Jangan sesekali melewati jalur yang dilarang. Setelah berjalan cukup lama yaitu sekitar 2 jam, akhirnya kami sampai di pos perizinan Bremi. Disana kami bertemu dengan bapak Arifin dan kami beristirahat sebentar. Setelah cukup beristirahat, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke Basecamp anak pecinta alam Fatarpa. Sekitar pukul 20:00 Wib kami langsung bergegas pulang ke Pamekasan, Madura.

Taman Hidup atau Teman Hidup, Nih?? 😀

Perjalanan kali ini merupakan perjalanan yang luar biasa menurutku, karena menurut kabar tidak mudah untuk menaklukkan Puncak Gunung Argopuro, terlebih membutuhkan estimasi waktu 3 hari untuk naik puncak dan 2 hari untuk turun. Perjalanan yang terbilang memelahkan, namun saya pribadi merasa puas dan bangga karena pernah menjejaki gunung dengan medan terpanjang di pulau Jawa. Ini akan menjadi kisah yang menarik untuk selalu dikenang. Rasanya sangat kurang menceritakan perjalanan singkat selama 5 hari, mohon maaf jika setiap detail dari perjalanan kami belum sempat diceritakan.

Dari perjalanan ini ada hikmah yang bisa saya ambil, yaitu mengingatkan saya untuk selalu bersyukur dengan keadaan apapun serta mengajarkan saya tentang proses perjuangan dan kerja keras, karena untuk mencapai sesuatu yang indah tidaklah mudah. Nikmati setiap prosesnya dan jangan pernah putus asa. Menurut berita yang beredar, banyak yang tidak berani untuk mendaki gunung Argopuro karena kisah mistisnya, Namun semua itu tergantung dari niat kita untuk apa kita mendaki. Untuk menghindari kejadian yang tidak inginkan, baiknya kita mematuhi setiap aturan yang ada. Di gunung, kita adalah tamu. Karena kita adalah tamu, maka berperilakulah layaknya tamu yang sopan dan jangan mengambil apapun yang bukan milik kita. Semoga perjalanan kami bisa memberikan inspirasi bagi kalian yang ingin mendaki ke Gunung Argopuro, atau sedikit mengobati bagi kalian pendaki yang merindukan suasana gunung Argopuro. Salam Lestari dan explore terus keindahan Indonesia!

Tinggalkan Balasan